Bantuan Kemanusiaan

D.Savio Search Engine

Wednesday, March 31, 2010

Little Savior


Organ Tubuh Seorang Bocah Selamatkan 7 Nyawa


Sicily, Nicholas Green, bocah berusia 7 tahun meninggal dunia karena tertembak peluru nyasar di Italia. Sebelum menuju liang lahat, organ tubuhnya berupa jantung, kornea mata, ginjal, pankreas dan liver (hati) didonorkan untuk menyelamatkan 7 nyawa manusia.

Orangtua Nicholas, yakni Reg dan Maggie yang shock ditinggal putra tercinta masih bisa berpikir mulia dengan mengambil keputusan cepat tanpa banyak diskusi atau pertimbangan untuk mendonorkan organ Nicholas.

Peristiwa itu terjadi pada Oktober 1994. Saat Nicholas tertembak, Reg Green (ayah Nicholas) sedang menyetir mobil menuju daerah Italia Selatan. Ketika itu, sebuah mobil yang berisi perampok melaju dengan cepat dan mengarahkan senjata ke mobil Reg.

Sebuah peluru mengenai jendela mobil, tapi peluru itu meleset dan Reg mengira tidak ada yang mengenai anak-anaknya (Nicholas dan Eleanor). Saat itu anak-anak sedang tertidur dan keadaan mobil sangat gelap sehingga ia tidak melihat keadaan anaknya satu per satu.

Namun ketika sebuah mobil polisi dan ambulan menghampiri kendaraan Reg, ia baru sadar bahwa Nicholas terluka, mulutnya mengeluarkan darah dan tangannya terkulai. Putranya yang baru berusia 7 tahun itu ternyata tertembak peluru di bagian belakang kepalanya. Tapi karena sedang tertidur, maka ia tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Nicholas yang sudah berwajah pucat namun tenang kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat di daerah Sicily. Tapi para dokter dan pakar saraf (neuroscience) disana sepertinya tidak bisa memberi harapan lagi karena kondisi otaknya yang sangat rusak akibat tembakan di bagian kepalanya.

Dua hari kemudian, dokter memberitahu bahwa sudah tidak ada aktivitas otak lagi di kepala Nicholas, yang artinya Nicholas sudah meninggal dunia. Saat itu juga, Reg dan Maggie menjadi lemas dan tidak bisa berkata apa-apa.

Beberapa saat setelah terdiam dan menangis, Maggie menyeletuk 'Karena dia sudah tidak ada, kenapa tidak kita sumbangkan saja organnya? Dia tidak membutuhkan lagi tubuhnya'. Keputusan mendonorkan organ Nicholas akhirnya terwujud.

Peristiwa pembunuhan dan pemberian organ Nicholas saat itu menjadi pemberitaan hangat selama beberapa minggu di berbagai media Inggris, Italia dan Amerika. Organ tubuh Nicholas dilaporkan berhasil menyelamatkan lima nyawa orang Italia dan kornea matanya menyelamatkan dua orang lainnya.

Ketujuh penerima organ Nicholas antara lain yaitu Andrea, Domenica, Fransesca, Anna Maria, Tinno, Silvia dan Maria Pia. Pada ketujuh orang tersebut, Nicholas menyumbangkan jantung, kornea mata, ginjal, pankreas dan liver (hati).

Andrea (15 tahun) yang selalu gagal menjalani operasi jantung mendapatkan organ jantung Nicholas dan kini ia sudah bisa hidup dengan normal lagi dengan jantungnya yang sehat. Domenica dan Fransesco sudah bisa melihat wajah anak-anaknya karena mendapat kornea mata dari Nicholas.

Sementara itu dua remaja, Anna-Maria dan Tino yang sudah bertahun-tahun mengandalkan mesin dialisis untuk bertahan dari penyakit gagal ginjal, kini bisa tumbuh dan berkembang menjadi remaja normal berkat sumbangan ginjal Nicholas.

Pankreas Nicholas pun diberikan pada Silvia yang sudah lama koma karena mengidap penyakit diabetes. Dan terakhir, organ liver (hati) Nicholas diberikan pada Maria Pia yang sebelumnya juga koma karena penyakit liver. Ia sangat bersyukur mendapat organ liver karena sebelumnya ibu dan kakaknya meninggal karena penyakit liver.

Nicholas dikenal sebagai anak yang ramah, baik, cerdas dan imajinatif. Pemberian organ Nicholas secara cuma-cuma pada mereka yang sangat membutuhkan dianggap sebagai hadiah terakhir dari Nicholas.

Sejak peristiwa tersebut, jumlah orang yang menggunakan organ hasil donor meningkat 300 persen dan kegiatan donor organ pun meningkat menjadi empat kali lipat. Efek itu dipercaya sebagai 'Nicholas Effect' dan memiliki pesan moril bahwa orang biasa-biasa pun bisa menjadi pahlawan bagi orang lain.

Nicholas Green, seorang bocah biasa yang kini sudah tiada itu berhasil menyelamatkan nyawa tujuh orang. Bayangkan ribuan orang lainnya yang bisa diselamatkan dengan mendonorkan organ. Nama Nicholas pun diabadikan menjadi nama rumah sakit, jalan, taman dan sebuah yayasan di Italia.

Menurut Dr Paul Murphy, konsultan neuroanaesthesia dari Leeds General Infirmary, tindakan kedua orang tua Nicholas sangat luar biasa.

"Bayangkan anak Anda yang berusia tujuh tahun meninggal karena dibunuh dan Anda measih bisa memikirkan nyawa tujuh orang lainnya yang tidak dikenal dengan mendonorkan organ anaknya tanpa diminta. Biasanya orang yang baru kehilangan seseorang yang dicintai akan langsung pulang dan menangisi kepergiannya. Mereka juga tidak akan setuju menyumbangkan organ orang tersebut," kata Dr Murphy seperti dilansir Telegraph, Senin (15/2/2010).

Setiap harinya, 3 orang di Inggris dan 18 di Amerika sekarat dan meninggal dunia karena menunggu donor atau transplantasi organ. Mendonorkan organ setidaknya bisa menyelamatkan tiga orang. Untuk itu, dokter sangat menyarankan agar tindakan donor organ terus ditingkatkan, apalagi usia tidak menjadi halangan untuk mendonorkan organ.

"Mendonorkan organ akan membawa ketenangan pikiran tapi tetap tidak bisa menghilangkan rasa kesepian akibat ditinggal pergi. Saya sering memikirkan Nicholas tiap hari tapi saya tersenyum mengingat apa yang sudah ia lakukan untuk orang lain," ujar Reg.
Regards,
Ferdy D.Savio

Tuesday, March 30, 2010

What Constitute A Good Life?


The ultimate expression of life is not paycheck.

That is a good life...

What Constitute a good life?

1. Productivity
2. Good Friends

3. Culture

4. Spirituality

5. Don't Miss Anything

6. Family and the inner circle

"Affirmation without discipline is the beginning of delusion"
Jim Rohn




Regards,

Ferdy D.Savio

Thursday, March 25, 2010

Three Nice Stories







#One#
Satu kali, semua penduduk desa berdoa memohon hujan.
Pada hari semua orang berkumpul untuk berdoa, hanya 1 anak laki2 yang membawa payung.
"itulah iman!"

#Two#
Teladan dari seorang bayi berusia 1 tahun.
Ketika kamu melemparkannya ke udara, dia tertawa karena dia tahu kamu akan menangkapnya.
"itulah kepercayaan!"

#Three#
Setiap malam kita tidur, kita tidak yakin bahwa kita masih hidup esok hari, tapi kita masih mempunyai rencana untuk besok.
"itulah harapan!"

Wednesday, March 24, 2010

POSITIVE THINKING


Lukas 1:37
Sbab bagi ALLAH tidak ada yang mustahil

Anda tidak bisa mengontrol cuaca, tapi anda bisa mengontrol perasaan anda...

Anda tidak bisa merubah bentuk muka anda,
tapi anda bisa tersenyum...

Anda tidak bisa mengontrol orang lain,
tapi anda bisa mengontrol diri anda sendiri...

Anda tidak bisa memutuskan berapa lama anda akan hidup,
tapi anda bisa memutuskan Apa yang ingin anda lakukan dengan hidup anda...

Anda tidak bisa meramalkan hari esok,
tapi anda mengisi hari ini dengan bijaksana...

Anda tidak bisa memenangkan setiap hal,
tapi anda bisa mencoba melakukan yg terbaik untuk mencapainya...

2 hal yg mempengaruhi hidupmu:

TERTAWA =D =))
Sekali tertawa, pusing kepala hilang.
Dua kali tertawa, benci pun sirna.
Tiga kali tertawa, persoalan lari.
Empat kali tertawa, penyakit cepet sembuh.
Lima kali tertawa, awet muda.
Enam kali tertawa, hati penuh sukacita asal jangan di kira gila.

HATI
Hati yg gembira adalah obat yg manjur.
Hati yg keras menemui jalan buntu.
Hati yg lembut mendatangkan sahabat.
Hati yg rakus menciptakan perangkap.
Hati yg bersih menjauhkan masalah.
Hati yg licik mendatangkan musuh.

Semoga anda bisa menghadapi kehidupan anda sehari hari dengan sikap Positif & slalu Berbahagia ^^
sumber: anonym

Regards,
Ferdy D. Savio

Sunday, March 21, 2010

"With God, All Things are Possible"


Hari ini saya mendapat email quote

"With God, All Things are Possible"

Coba pikirkan sejenak...

Bersama Tuhan segala hal mungkin.

Tugas kita adalah untuk ingat selalu dekat dengan Tuhan; dekat dalam pikiran kita, dekat dalam perasaan kita.
Saat kita dekat dengan Tuhan dalam pikiran kita, kita memikirkan hal-hal yang baik, kasih, segala hal mungkin.
Saat kita dekat dengan Tuhan dalam hati kita, kita merasakan aman, damai, inspiratif dan sebuah perasaan untuk membuat perbedaan yang baik bagi dunia, melakukan hal-hal kasih dan menginspirasi untuk memuliakan Tuhan.

Jadi ingat mujizat itu nyata, "With God all things are possible"

Dekat dengan Tuhan...
Have a Good Night...

Regards,
Ferdy D.Savio

Life is a book


Hidup manusia itu seperti sebuah buku.

Front cover adalah nama kita,

Back cover adalah bagaimana kita diingat oleh orang ketika dipanggil pulang,

setiap halaman digunakan tanggal,

halaman pertama adalah tanggal lahir,

back cover adalah tanggal pulang.

Tiap lembarnya adalah tiap-tiap hari dlm hidup kita.

Ada buku yang tebal ada buku yang tipis.

Ada halaman yang menarik dibaca, ada yang tidak sama sekali.

Sekali menulis tidak akan pernah berhenti sampai selesai.

Hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya,

selalu tersedia halaman selanjutnya yang putih bersih, baru and tiada cacat.

Sama dengan hidup kita,

seburuk apapun kemarin,

Tuhan slalu menyediakan hari yang baru untuk kita.

Kita selalu diberi kesempatan yang baru untuk melakukan sesuatu yang benar dalam hidup kita setiap harinya, memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita yg sudah ditetapkanNya utk kita masing2.

Puji Tuhan untuk hari ini!!

Nikmati, isi dengan hal-hal yang baik dan jangan lupa untuk slalu bertanya kepada Tuhan tentang apa yang harus ditulis tiap-tiap harinya.

TUHAN Mengasihi & Memberkati Slalu
sumber: anonym

Regards,
Ferdy D.Savio

Tuesday, March 16, 2010

Yeremia 29:11


Regards,
Ferdy D. Savio




Monday, March 15, 2010

What will you buy if you rich?


Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan bermimpi suatu hari nanti ia
menjadi seorang jutawan. Ia sepenuh sadar bahwa impian adalah sesuatu
yang mampu membangkitkan motivasi dan memberikan arah bagi kehidupan
setiap insan. Impian ini kemudian disampaikannya kepada sang kekasih.

Beberapa waktu kemudian mereka menikah.

Sayangnya tidak lama kemudian terjadi krisis ekonomi yang parah. Masa
depresi besar tiba! Pasangan ini kemudian mengalami berbagai peristiwa
menyedihkan dalam kehidupan mereka. Mulai dari kehilangan pekerjaan dan
mobil, rumah yang digadaikan hingga tabungan yang kian menipis dari hari
ke hari. Sang pemuda ini mengalami frustrasi luar biasa. Ia kerap duduk
termenung seorang diri. Ia bahkan menyarankan agar istrinya meninggalkan
dia. Ia merasa tidak mampu lagi menjadi suami yang baik. Ia merasa telah
gagal dalam hidupnya.

Siapa menduga sang istri justru tidak kehilangan harapannya sedikit pun?
Sang istri yang penuh kasih sayang ini selalu dekat dan menguatkannya.
Dengan tidak bosan-bosannya ia meyakinkan sang suami

bahwa impian untuk menjadi jutawan itu belum mati dan mereka pasti bisa
mencapainya bersama-sama suatu hari kelak. "Suamiku, kita harus tetap
melakukan sesuatu agar impian kita itu tetap hidup," katanya berulang
kali kepada sang suami. "Tetap hidup?" jawab sang suami, "Impian kita
telah mati! Kita telah gagal!"

Sang istri tetap tidak mau percaya bahwa impian itu telah mati. Ia
bahkan sama sekali tidak bersedia untuk mengubur impian tersebut! Untuk
tetap menjaga kehidupan impian tersebut ia mengajak sang suami untuk
merancang apa yang akan mereka lakukan jika suatu saat nanti mereka
menjadi jutawan. Keduanya lalu mulai melakukan hal ini setiap kali
selesai makan malam.

Waktu terus berlalu dan mereka masih saja melakukan kegiatan yang sama
hingga suatu hari sang suami endapatkan sebuah ide brilian: menciptakan
permainan uang. Yakni barang-barang apa saja yang akan dibeli jika
seseorang memiliki "uang", misalnya tanah, rumah, gedung, dsb. Gagasan
ini terus mereka matangkan. Mereka menambahkan papan permainan, dadu,
kartu, rumah-rumah kecil, hotel-hotel kecil, dsb.

Bisakah Anda menebak permainan apakah ini? Ya, tepat! Permainan itu
bernama monopoli. Ya, begitulah cerita bagaimana Charles Darrow dan
istrinya, Esther menciptakan permainan tersebut. Permainan ini kemudian
dijual kepada seorang pengusaha dengan harga satu juta dolar dan impian
jadi jutawan pun terwujud!

"I Never Quit, I Never Give Up!"

Regards,

Ferdy D.Savio

Friday, March 12, 2010

Kaca Spion: Sebuah Hikmat


Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.
Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola.
Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya.
Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia.
Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.
Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami.
Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.
Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.

Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang.
Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat,
akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000.
Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.
Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan.
Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya.

Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.
Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?
Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba.
Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.
Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan.
Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.
Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.
Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.
Mereka tidak punya hati nurani.

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia.
Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.
Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian.
Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab.
Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.
Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.

Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.
Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.
Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.
Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi..
Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.

Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu.
Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

- Sharing Andy F Noya -

Tanpa maaf, hidup akan dikuasai lingkaran kebencian dan pembalasan dendam yang tak akan pernah berakhir. - Robert Assaglioli -

Regards,

Ferdy D.Savio

Tuesday, March 9, 2010

Remarks on East West Relations at the Brandenburg Gate 06-12-87

Former President of U.S. Ronald Reagen Speech (1987)

Mr. Gorbachev, Tear Down This Wall


Jumat, 12 Juni 1987, pukul 2 Siang, Presiden U.S. Ronald Reagen memberikan sebuah pidato di Brandenburg Gate, Berlin Wall...

Dikenal sebagai "The Great Communicator's", ini adalah pidato yang paling dikenang... Di balik kaca anti peluru, berikut adalah pidato beliau...



"In the 1950s, Khrushchev predicted: 'We will bury you.' But in the West today, we see a free world that has achieved a level of prosperity and well-being unprecedented in all human history. In the Communist world, we see failure, technological backwardness, declining standards of health, even want of the most basic kind--too little food. Even today, the Soviet Union still cannot feed itself. After these four decades, then, there stands before the entire world one great and inescapable conclusion: Freedom leads to prosperity. Freedom replaces the ancient hatreds among the nations with comity and peace. Freedom is the victor.

"And now the Soviets themselves may, in a limited way, be coming to understand the importance of freedom. We hear much from Moscow about a new policy of reform and openness. Some political prisoners have been released. Certain foreign news broadcasts are no longer being jammed. Some economic enterprises have been permitted to operate with greater freedom from state control.

"Are these the beginnings of profound changes in the Soviet state? Or are they token gestures, intended to raise false hopes in the West, or to strengthen the Soviet system without changing it? We welcome change and openness; for we believe that freedom and security go together, that the advance of human liberty can only strengthen the cause of world peace. There is one sign the Soviets can make that would be unmistakable, that would advance dramatically the cause of freedom and peace.

"General Secretary Gorbachev, if you seek peace, if you seek prosperity for the Soviet Union and Eastern Europe, if you seek liberalization: Come here to this gate! Mr. Gorbachev, open this gate! Mr. Gorbachev, tear down this wall!'"


lengkapnya dapat dilihat di http://www.reaganfoundation.org/pdf/Remarks_on_East_West_RElations_at_Brandenburg%20Gate_061287.pdf


Saya menyukainya... Mengapa? karena... saya merinding membacanya, kemudian saya menonton videonya, dan saya rasa saya dapat menggunakannya untuk terapi NLP... (Client), Tear Down This Wall!!! Dan, setahun setengah setelah Beliau berpidato...

Regards,
Ferdy D. Savio
interesting story:
http://www.forbes.com/2009/10/30/ronald-reagan-berlin-wall-speech-opinions-columnists-berlin-wall-09-peter-robinson.html

Thursday, March 4, 2010

Abundance Attitude


Pesan hari ini (Luk 16:19-31) bagi saya tidak berbicara tentang kekayaan atau kemiskinan... Tetapi tentang sikap...

Yupe, sikap... Attitude...

Orang kaya itu tidaklah berbuat yang merendahkan si Lazarus, maupun merampas apa yang bukan menjadi miliknya... betul itu... Si Orang kaya tidak berbuat apa-apa terhadap Lazarus... it's his attitude...

Ternyata tidak berbuat apa-apa disaat kita mampu itu berdosa? Betul kah itu? Saya juga tidak tau kebenaran dari pernyataan ini. Tapi yang saya tau, muncul perasaan yang menyenangkan, saat kita berbagi...

Teman, memang sangat tidak mudah untuk berbagi bila kita pun masih berkekurangan... Kekurangan itu adanya di pikiran kita... Ini benar...

Tuhan menciptakan dunia kita ini dengan segala kelimpahan. Saya percaya itu...

Saat kita bersyukur... Perlahan-lahan kita akan melihat betapa dunia ini penuh dengan kelimpahan... Begitu juga dengan hidup kita...

Saat kita memberi, hidup kita tak akan berkekurangan... Memberi apa? Minimal memberi yang terbaik... Materi, Uang, Tenaga, Doa, Berkat, Pengampunan, Cinta, Kesaksian, Penguatan, Dukungan, Nasehat, Pengajaran, dsb...

Ingatlah bahwa kekurangan itu hanya ada didalam pikiran... Give your best, and also give others chance to also give you something... ^_^ Jangan egois, orang lain kan juga mau memberi, jadi kita harus terima...

Regards,
Ferdy D.Savio

Today I will walk with my hands in God's


Today I will walk with my hands in God's
Today I will trust in Him and not be afraid

For He will be there, for He will be there
Every moment to share
On this wonderful day He has made

Tuesday, March 2, 2010

Knowing Vs Understanding


Ada perbedaan antara mengetahui dengan memahami. Semua orang dapat dengan mudah mempelajari dan mengetahui segala sesuatu, akan tetapi tidak semua orang dapat memahami nya.

Celakanya adalah bila seseorang tidak menyadari bahwa ia tidak mengerti.

Saya adalah salah satunya.

Adalah mudah untuk mengetahui dan mempelajari firman Allah, filosofi kehidupan, hukum kesuksesan, bahkan soft dan hard skill...

Pada prakteknya, tantangan dan rintangan menyadarkan saya betapa tidak paham nya saya.

Mempelajari sesuatu sungguh memberikan saya sebuah self esteem yang tinggi. Perasaan bangga dan pintar, kepercayaan diri yang tinggi.

Lain lagi saat mempraktekkannya... Saya merasa sangat kecil, saya merasa begitu sedikit yang saya ketahui. Saya merasa... Tidak cukup... Dan rasa kepercayaan diri pun hilang, tidak ada lagi perasaan bangga dan pintar...

Lalu apa yang terjadi kepada saya? Saya jatuh, dan patah semangat untuk beberapa saat. Tapi saya bangkit lagi. Bangkit untuk berusaha lagi.

Disiplin adalah kuncinya.
Terus belajar, praktek, dan perlahan-lahan, menjadi paham.

If we do nothing, nothing happens...
If we do something, miracle happens...

inspired from Mat23:1-12


Regards,
Ferdy D.Savio


Grab this Widget ~ Blogger Accessories